Jumat, 25 Mei 2012

makalah lingkungan pendidikan


KATA  PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa karena dengan rahmat dan hidayah-nya kami dapat menyelesaikan tugas dari bapak dosen untuk membuat makalah yang berjudul Lingkungan Pendidikan ini dengan baik.
Terima kasih kami ucapkan kepada bapak dosen yang telah mempercayakan kami untuk membuat makalah ini. Tanpa bimbingan bapak kami tidak bisa apa-apa. Untuk itu kami berterima kasih karena telah memberi bimbingan dan kesabaran dalam pembelajaran yang selama ini bapak berikan kepada kami.
Kekurangan yang mungkin ada pada makalah ini justru diharapkan mendorong para teman-teman mahasiswa untuk melengkapinya dari sumber-sumber lain yang sesuai dan bagi bapak Pembina/bapak dosen yag melihat kekurangan dari makalah kami ini mohon untuk dapat membantu menyempurnakan makalah yang kami buat ini.
Semoga makalah ini benar-benar bemanfaat dan dapat dipahami oleh pembacanya.






Surabaya, 15 Desember 2011



Penyusun        

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………... 1
DAFTAR ISI………..…………………………………………………………... 2
BAB I PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang Masalah……………………………………………..... 3
1. 2 Rumusan Masalah…………………………………………………….. 4
1. 3 Tujuan Penulisan……………………………………………………… 5
1. 4 Manfaat Penulisan…………………………………………………….. 5
BAB II PEMBAHASAN
2. 1 Pengertian dan Jenis Pendidikan……………………………………... 6
2. 2 Karakteristik Pendidikan…………………………………………….. 19
2. 3 Manfaat dan Fungsi Pendidikan…………………………………….. 20
BAB III PENUTUP
3. 1 Kesimpulan………………………………………………………….. 22
3. 2 Saran………………………………………………………………… 22
DAFTAR PUSTAKA             








BAB I
PENDAHULUAN

1. 1          Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi faktor dari dalam maupun dari luar individu yang bersangkutan. Faktor dari dalam dapat berupa faktor keturunan  maupun faktor yang dibawa sejak lahir. Faktor keturunan bisa bersifat genitik yaitu faktor yang menurun terkait makhluk dan keturunan yang terbatas dari kondisi orang tua. Apa yang dimiliki anak sejak lahir bukan lagi faktor yang diperolah dari orang tua tetapi sudah ada pengaruh lingkungan sewaktu anak masih dalam kandungan.
Selama anak masih berada dalam kandungan memerlukan situasi keluarga yang nyaman, tenang, suasana gembira. Dalam hal ini peranan seorang ayah sangat menentukan. Seorang ayah sebagai kepala keluarga memang harus bertanggung jawab atas keselamatan keluarga, ketenangan keluarga, ketentraman keluarga. Dalam keluarga yang tidak tentram, keluarga yang kacau, akan sangat berpengaruh negatif  tehadap anggota keluarga, terutama ibu yang sedang mengandung sehingga akhirnya akan berpengaruh terhadap janin yang masih dalam kandung itu.
Sehubungan dengan hal tersebut maka sangat rasional adanya pendidikan pra natal, pendidikan sebelum anak lahir. Harus kita sadari bahwa sifat- sifat, watak dan keadaan anak itu merupakan hasil pewaris dari orang tuanya. Bila kedua orang tuanya baik-baik maka dapat diharapkan anak- anaknya nanti akan baik, sebaliknya bila kedua orang tuanya tidak baik maka anak-anaknya akan tidak baik pula. Oleh karena itu pantaslah bila pemuda- pemuda dan pemudi - pemudi sebelum mempunyai anak harus dididik lebih dahulu baru baru kemudian menikah yang akhirnya akan bisa mempunyai anak-anak yang akan baik-baik pula. Konsep ini juga dinyatakan dalam UU No.20 tahun 2003 pasal 28, khususnya yang membahas tentang PADU (Pendidikan Anak Usia Dini) yang meliputi pendidikan bayi, balita. Untuk selanjutnya pengaruh lingkungan diluar anak terhadap perkembangan anak semakin bertambah banyak.
Terkaitnya dengan pentingnya peran lingkungan terhadap perkembangan manusia seorang pendidik atau guru harus mengenal berbagai jenis lingkungan, pengaruh terhadap perkembagan peserta didik, serta mampu  mengendalikan lingkungan agar pengaruh positifnya terhadap proses hasil pendididikan atau guru harus dapat menunjukan kemampuan :
1.      Menyebutkan berbagai jenis lingkungan pendidikan
2.      Menyebutkan karakteristik setiap jenis lingkungan pendidikan.
3.      Memanfaatkan setiap jenis lingkungan pendidikan unuk kepentingan mendidik.

1. 2          Rumusan Masalah
Pada bagian ini penulis merumuskan masalah berdasarkan latar belakang. Penyusunan rumusan masalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan ruang lingkup masalah, pembatasan dimensi dan analisis variabeI. Hal ini penting agar masalah yang diteliti tidak terlalu luas, sehingga tingkat kepekaan dan kedalaman analisisnya cenderung lebih baik.
1.      Sebutkan ruang lingkup lingkungan pendidikan?
2.      Sebutkan karakteristik setiap jenis lingkungan pendidikan?
3.      Apa dampak dari setiap lingkungan pendidikan terhadap peserta didik ?
4.      Apa manfaat setiap jenis lingkungan pendidikan unuk kepentingan mendidik?



1. 3          Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui berbagai jenis lingkungan pendidikan.
2.      Untuk mengetahui karakteristik setiap jenis lingkungan pendidikan.
3.      Untuk mengetahui manfaat setiap jenis lingkungan pendidikan unuk kepentingan mendidik.
4.      Untuk mengetahui kapan proses pendidikan berakhir.

1. 4          Manfaat penulisan
Hasil penulisan makalah ini diharapkan memberikan pengertian dan manfaat bagi mahasiswa dan pembacanya. Ada beberapa manfaat yang bisa kami lampirkan,antara lain:
1.      Sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa dan pembaca untuk referensi sarana belajar.
2.      Memberikan kemudahan untuk memahami materi pembelajaran karena di ambil dari berbagai pengertian mendasar tentang lingkungan pendidikan.
3.      Memperkaya dan mengembangkan kemampuan serta kehidupan memperluas pengetahuan mahasiswa.







BAB II
PEMBAHASAN
Dalam rangka memahami masalah yang dirumuskan dalam bab I, maka perlu penulis jelaskan beberapa teori yang menjadi landasan pijakan berupa kajian pustaka dalam penelitian ini.
2. 1     Pengertian dan Jenis Lingkungan Pendidikan
1.      Pengertian lingkungan pendididkan.
Proses pendidikan selalu berlangsung dalam suatu lingkungan tertentu, baik lingkungan yang berhubungan ruang maupun waktu.
Dalam konteks pendidikan pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar terjadinya kegiatan mendidik dan berpotensi memberikan pengaruh terhadap proses dan hasil pendidikan. Pengertian lingkungan mengandung konotasi dalam segi positifnya dan ada yang menyebut dengan istilah milleu, artinya belum menampakkan pengaruhnya terhadap proses dan hasil pendidikan, baru berstatus sebagai faktor pendidikan. Namun kalau sudah masuk dalam proses maka lingkungan dapat berubah menjadi alat pendidikan.
Lingkungan dalam kaitan dengan pendidikan adalah segala sesuatu yang berada diluar diri anak dalam alam semesta ini (Depdikbud, 1981:85). Pengertian ini sejalan dengan pandangan Imam Bardani, MA, yang mengatakan bahwa lingkungan adalah segala keadaan yang ada disekitar anak didik. Proses pendidikan dapat berlangsung bila ada wadahnya, lapangan atau lingkungannya.
Sutan Zanti Arbi, Syahniar Syahrun (1991/1992:31) juga memberikan pengertian bahwa “Lingkungan pada hakikatnya merupakan sesuatu yang ada diluar diri  individu walaupun ada yang menyatakan bahwa ada lingkungan yang terdapat dalam diri individu” .
Drs. Suwarno (1974: 55) yang mengutip pendapat M.J. Langeveld dan Ki Hajar Dewantara, memandang lingkungan sebagai badan atau wadah berlangsungnya proses pendidikan.
Dengan demikian dari berbagai pendapat diatas, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada diluar diri peserta didik,dalam alam semesta ini yang menjadi wadah atau wahana, yang nyata dapat diamati, seperti tumbuhan, binatang, orang-orang , dsb.
Pendidik merupakan bagian dari lingkungan juga, tetapi karena sifat pengaruhnya berbeda dengan pengaruh yang diberikan oleh lingkungan lainnya maka pendidik dipisahkan dari lingkungannya. Pengaruh  pendidik merupakan pengaruh yang mengandung unsur tanggung jawab, sedangkan pengaruh lingkungan hanya merupakan pengaruh belaka, tidak tersimpul unsur tanggung jawab di dalamnya.(Sutari Imam Barnadib,1987:117)
2.            Jenis lingkungan
a.    Jenis lingkungan menurut wujud fisiknya dibagi menjadi 4 yaitu:
1)   Lingkungan alam (benda)
Adalah segala sesuatu yang ada dibumi yang berada diluar diri anak yang bukan manusia atau benda-benda yang ada disekitar manusia. Misalnya: tanah, batu, binatang, tumbuh-tumbuha, iklim ,air,gedung, rumah, dan benda-benda alam lainnya.
2)   Lingkungan sosial
Adalah semua manusia yang berada diluar diri seseorang yang dapat mempengaruhi diri orang tersebut atau lingkungan yang berwujud manusia. Misalnya: teman sekolah, teman sebaya, atau orang sekitar tempat tinggal merupakan lingkungan sosial yang bersifat langsung. Sedangkan progam-progam dalam televisi, radio, surat kabar, atau media cetak yang lainnya termasuk lingkungan sosial yang tidak langsung.

3)   Lingkungan budaya
Adalah lingkungan yang berupa hasil cipta karsa, dan karya manusia termasuk didalamnya ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Misalnya: seni tari, seni musik, dan ilmu pengetahuan alam.
4)   Lingkungan moral
Adalah  segala sesuatu yang mengatur tata laku manusia, baik yang diciptakan manusia sendiri. Misalnya: sopan santun, beribadah, dan menghormati orang yang lebih tua.

b.   manusia ditinjau dari luasnya lingkup pergaulan peserta didik dibagi menjadi 3 yaitu:
1)   Lingkungan keluarga
Keluarga memiliki wewenang secara kodrat untuk mandidik anak-anaknya. Anak-anak pertama-tama mendapatkan pendidikan adalah lingkungan keluarga. Pendidikan yang pertama-tama diterima olah anak-anak adalah pendidikan dilingkungan keluarga. Pendidik dalam lingkungan keluarga adalah orang tua (bapak dan ibu). Oleh karena itu orang tua biasa mendapat predikat pendidik yang pertama dan utama. Dikatakan pendidik pertama karena pertama-tama anak mendapatkan pendidikan adalah pendidikan dari orang tua mereka sebelum anak-anak memasuki lingkungan-lingkungan pendidikan yang lain.
Orang tua juga dikatakan sebagai pendidik utama karena karena terletak pada orang tualah, tanggung jawab pendidikan anak-anaknya. Pendidik-pendidik yang lain (disekolah, dilingkungan, masyarakat) bukan merupakan pendidik utama. Oleh karena itu pendidikan terhadap anak pertama-tama diberikan oleh orang tua ditambah dengan penanggung jawab utama pendidikan anaknya. Dengan demikian tidak salah apabila orang tua mendapat predikat sebagai pendidik pertama dan pendidik utama.
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidik dalam lingkungan keluarga terutama bertanggung jawab tentang pendidikan budi pekerti. Tekanan di sini adalah pembentukan moral, budi pekerti dengan harapan melewati pendidikan keluarga akan menjadikan anak yang bermoral mulia, yang selanjutnya akan dikembangkan lebih lanjut dalam pendidikan di sekolah-sekolah dan lingkungan masyarakat.
Menurut kodratnya manusia adalah homo socius, yaitu sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu manusia dalam hidupnya selalu berkelompok. Oleh Charles H. Coobly kelompok dibagi menjadi dua macam kelompok, yaitu kelompok primer dan sekunder.
a)      Ciri-ciri kelompok primer/sekunder.
(1)   Terdapat interaksi sosial yang lebih berat antara anggotanya,terdapat hubungan face to face, hubungan yang satu dengan yang lain dari hati ke hati.
(2)   Sering hubungannya bersifat irasional dan tidak didasarkan pamrih.
(3)    Dalam kelompok primer manusia selalu  mengembangkan norma-norma, melepas kepentingan sendiri demi kepentingan kelompok. Contoh kelompok primer adalah keluarga, kelompok belajar,kelompok permainan, kelomok agama (Abu Ahmad, 1979:40-41).
b)      Ciri keluarga
Keluarga sebagai lembaga pendidikan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
(1)    Sebagai pendididkan pertama
sebelum anak memasuki lembaga pendidikan yang lain, ia diberikan pendidikan oleh keluarganya. Sebagai pendidikan pertama artinya pendidikan yang diberikan oleh keluarga merupakan pendididkan yang  pertama kali diberikan kepada anak. Maka keluarga memberikan dasar-dasar pendidikan kepada anak untuk selanjutkan dikembangkan disekolah dan masyarakat.
(2)   Sebagai pendidik utama
Utama, artinya pendidikan yang diberikan oleh keluarga sangat penting, karena anak sepanjang hidupnya paling banyak waktu dihabiskan dalam keluarga bila dibandingkan dengan lembaga yang lain. Oleh karena pengaruh keluarga terhadap perkembangan anak sangat besar, baik dalam perkembangan jasmani maupun rokhani. Di dalam keluarga anak-anak mendapatkan pendidikan tentang keutamaan/etika. Dasar-dasar keagamaan, kesosialan, moralitas dan sebagainya.
Adapun fungsi pendidikan keluarga, adalah:
a.        Mengembangkan jasmani anak.
Sehari-hari orang tua bekerja karena mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan dan kesehatan keluarga, anak-anak, membiasakan hidup sehat, menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan sakit. Anak yang sehat akan berani bermain, berani bereksplorasi  kedunia luar, sehingga perkembangan sosialnya, ketrampilan dan otaknya serta intelegensinya terjamin.
b.      Perkembangan sosial
Orang tua berusaha agar anaknya kelak menjadi warga masyarakat yang baik dan mampu  menyesuiakan diri dalam masyarakat. Oleh karena itu sejak diajar bagaimana menghormati orang yang lebih tua, menghadapi tamu, bersikap dan berbahasa sesuai dengan adat isiadat yang berlaku dilingkungannya.
c.       Perkembagnan ketrampilan
ketrampilan merupakan bekal hidup sehari-hari setelah dewasa agar dapat hidup mandiri juga diberikan dalam keluarga dengan jalan mengikut sertakan anak dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak putri akan berpartisipasi terhadap ibunya dalam kehidupan didapur, bagaimana cara memasak dan menghidangkan makanan, sampai dia dapat melaksanakan sendiri tanpa didampingi oleh ibunya. Sebaliknya seorang laki-laki akan membantu ayahnya diladang, mencakul, membajak, memelihara ternak dan akhirnya dia melaksankan sendiri sesudah dewasa kemudian menikah dan berkeluarga. Demikian cara mendidik tenaga terampil dalam masyarakat yang masih sederhana, cukup dengan berpartisipasi dalam kehidupun sehari-hari.
         Dalam masyarakat yang modern kebutuhan hidup makin komplek. Maka cara-cara semacam itu tidak cukup untuk melatih ketrampilan, perlu ahli-ahli khusus, misalnya ingin membuat macam-macam hal dan masakan perlu khusus atau sekolah (Simanjutak,193:13-15)
d.      Perkermbangan emosional/kasih sayang
         Salah satu kemenangan keluarga dalam mendidik anak ialah kemampuan memberikan kasih sayang kepada anak secara sempurna, karena secara kodrat anak dilahirkan di dalam satuan keluarga orang tua akan mengasuh dengan penuh kaih sayang yang sangat dibutuhkan oleh anak untuk berkembang secara wajar.
Menurut ilmu jiwa dalm (Sigmud Freud), memberikan pengalaman emosional anak pada tahun-tahun pertama yang tidak menyenengkan akan ditekan kebawah sadar (ketidak sadran). Hal-hal yang demikian itu tetap hidup dan tidak lenyap yang sewaktu-waktu dapat muncul berupa bermacam-macam gejala diantaranya mengeja dalam bentuk penyakit jiwa (B.G Palland,1959;599-600).
(3)   Sebagai lembaga pendidikan informal
Ciri pendidikan keluarga yang ketiga ialah informal artinya bahwa dalam keluarga tidak terdapat tujuan yang spesifik tanpa kurikulum tanpa jenjang seperti peraturan secara tertulis lembaga pendidikan formal. pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (UU No.20:2003 pasal 1). Pendidikan dalam keluarga tidak didasarkan pada aturan-aturan yang ketat, pelaksanaannya secara prakis, dan hubungan antara orang tua sebagai pendidik dengan anak-anak sebagai peserta didik adalah hubungan darah atau kodrati.
2)       Lingkungan sekolah
adalah lingkungan pergaulan diluar keluarga tetapi masih memiliki sifat kekeluargaan yaitu lingkungan sekolah.
Setelah anak dianggap matang untuk memasuki sekolah, maka pendidikan diteruskan dengan mengikuti pendidikan disekolah. Sekolah merupakan lembaga pendidikan dalam masyarakat yang menyalenggarakan kegiatan pendidikan kepada anak-anak yang telah “diserahkan” orang tuanya di sekolah tertentu.
            Pendidikan di sekolah merupakan pendidikan formal yang dilakukan oleh para guru yang telah dipercaya oleh masyarakt untuk menyelenggarakan pendidikan yang bersifat formal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (menurut UU No.20 tahun 2003 ). Para guru menyelenggarakan pendidikan dengan mendasarkan diri kepada kurikulum atau rencana pelajaran tertentu sesuai dengan tingkat kelasnya serta berbagai aturan yang berlaku disekolah-sekolah tersebut. Dengan demikian pendidik-pendidik dilingkungan  sekolah adalah para guru dengan dikoordinasi oleh kepala sekolah.
            Isi pendidikan serta kegiatan pendidikan disekolah telah diatur dalam kurikulum sekolah yang bersangkutan, juga didasarkan kepada berbagai aturan yang berlaku disekolah yang bersangkutan.

(a)   Satuan pendidikan
Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada  jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan (menurut UU No.20 tahun 2003). Yang disebut sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang berjenjang dan kesinambungan. Menurut asalnya sekolah berasal dari kata schola yang artinya waktu senggang atau waktu kosong yang diisi dengan diskusi untuk membicarakan ilmu pengetahuan.
Pada waktu masyarakat masih sederhana kebutuhan masih sederhana. Untuk pemenuhan kebutuhan masih dapat dipenuhi oleh keluarga. Makin maju masyarakat kebutuhan semakin komplek. Ciri masyarakat maju ialah adanya tugas spesifikasi dalam setiap anggota masyarakat.
Tugas pendidikan oleh keluarga dialihkan kepada sekolah yang dilaksanakan oleh guru. Tentu saja tujuan pendidikan dalam keluarga tidak berbeda dengan sekolah ialah menjadikan anak manusia yang dewasa ataupun diri sendiri atas tanggung jawab sendiri. Syarat suatu sekolah ialah adanya prasarana yang berupa gedung dan alat-alat brupa buku. Syarat yang kedua ialah manusia yang bertanggung jawab atas terselengaranya proses mendidik anak-anak menjadi dewasa, hal ini termasuk guru-guru dan kepala sekolah yang bertanggung jawab semuanya.

(b)               Kriteria lembaga sekolah
(1)   Formal
Sekolah merupakan lembaga formal, artinya dalam sekolah ada tujuan yang jelas tercantum dalam kurikulum. Untuk menjadi tujuan tersebut, ada tahap-tahap atau jenjang, materi atau bahan yang ingin dicapai tiap tahap sudah tersusun dalam kurikulum.
Ada cara menilai pencapaian tiap tahap. Ada pengadministrasian nilai yang dicapai oleh peserta didik berupa daftar nilai,legger,dan rapor.
(2)   Tidak bersifat kodrat
Sekolah berbeda dengan keluarga yang bersifat kodrat. Guru mengajar murid bukan karena hubungan persaudaraan atau hubungan keturunan, melainkan karena guru mempunyai profesi sebagai pendidik dan pengajar.
(c)    Fungsi sekolah
(1)   Sekolah sebagai pusat, lembaga, lingkungan pendidikan, wiyata mandala, dengan wawasan ini diharapkan sekolah benar-benar berfungsi yang tepat dan tidak disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ada pengertian pokok bahwa sekolah mempunyai tugas atau fungsi untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar yang dilaksanakan secara terencana, tertib, dan teratur, sehingga menghasilkan tenaga-tenaga terdidik yang senantiasa diperlukan bagi pembangunan nusa dan bangsa.
(2)   Sekolah berfungsi sosialisasidi masyarakat.
Sosialisasi adalah suatu proses untuk mempelajari cara-cara hidup bermasyarakat. Demikian pula di sekolah anak-anak dipersiapkan dengan berbagai ketrampilan dan bersiakp untuk hidup nantinya (Saleh Sugiato,1989;86).
(3)   Sekolah berfungsi sebagai konservatori dan transmisi nilai-nilai budaya.
Hasil kebudayaan masyarakat yang bernilai tinggi berusaha untuk dikembangkan kemudian diwarisakan kepada generasi penerus. Sehingga nilai budaya itu tidak lenyap, misalnya ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian dikembangkan disekolah, dipelajari untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
(4)   Sekolah sebagai miniatur masyarakat, artinya sekolah hendaknya menggambarkan kehidupan masyarakat, karena sekolah juga sebagai persiapan kehidupan masyarakat. Misalnya kehidupan masyarakat demokratis, maka kehidupan masyarakat harus demokratis.
(5)   Sekolah sebagai masyarakat yang ideal, artinya bahwa dalam masyarakat terdapat corak kehidupan, yaitu ada yang mempunyai nilai baik, namun ada pula yang memiliki nilai buruk. Sekolah merupakan bentuk masyarakat ukuran kacil, nilai kehidupan yang rendah yang terdapat dalam masyarakat, misalnya penyakit masyarakat (percurian, perjudian, pelacuran,minum-minuman keras) yang istialh jawabnya “ma lima”, dikenal disekolah untuk dihindari, yang dikembangkan disekolah nilai-nilai kehidupan yang tinggi, seperti: seni tari, seni drama, dsb.


(d)   Macam – macam sekolah
Mengenal macam-macam sekolah ini Dapat dibedakan berdasarkan berbagai segi. Ditinjau dari segi penyelenggaraannya dapat dibagi manjadi dua :
(a)       Sekolah negeri
Sekolah negeri adalah sekolah yang didirikan oleh pemerintahan dibiayai oleh negara.
(b)      Sekolah swasta atau sekolah partikekir
Sekolah swasta atau sekolah partikekir ialah sekolah yang didirikan dan dibiayai badan swasta dalam bentuk yayasan yang disahkan oleh notaris. Eksistensi sekolah swasta sekarang berbeda dengan jaman penjajahan. Sekolah swasta sekarang dipandang sebagai mitra pemerintah. Oleh karena itu swasta dibantu berupa perkembangannya berupa gedung, peralatan, dan guru.
Untuk mejaga mutu sekolah swasta diadakan akreditasi oleh pemerintahan. Untuk mendapat jenjang tertentu atau status, yang dinilai dalam akreditasi tersebut ialah sarana dan prasarana, administrasi dan kelayakan guru-gurunya, serta pemanfaatan sekolah oleh masyarakat sekitarnya. Perolehan status tersebut berkaitan dengan hak melaksanakan ebtanas atau evaluasi berjalam tahap akhir nasional. Untuk menjaga kualitas sekolah dalam melaksanakan kurikulum yang tepat disekolah dan situasinya bermacam-macam, oleh pemerintahan diadakan ebtanas.
            Sebagian bidang studi yang di ebtanaskan, sedang yang lain cukup diebtakan saja. Dari ebtanas tersebut akan didapatkan nem (nilai ebtanas murni). Siswa pada kelas terakhir suatu jenjang sekolah, akan mendapatkan surat tanda tamat belajar (STTB).

Ø  Mengenai sekolah dapat dibedakan :
a.       Terdaftar, sekolah yang berstatus terdaftar belum boleh menyelenggarakan ebtanas sendiri, melainkan harus digabung dengan sekolah negeri terdekat atau sekolah swasta yang statusnya disamakan/sekolah itu juga tidak berhak mengeluarkan STTB untuk muridnya, tetapi STTB atas nama sekolah yang digabungi.
b.      Diakui sekolah yang berstatus diakui bleh menyelenggarakan ebtanas sendiri dan menentukan kelulusan muridnya serta memberi STTB kepada muridnya sendiri.
c.       Disamakan, yaitu status yang paling tinggi. Sekolah yang berstatus ini sebagai penyelenggaraan ebtanas bahkan dapat digabung oleh sekolah swasta terdaftar disekitarnya atau dapat dijadikan ketua sub rayon.
3)      Lingkungan masyarakat
Adalah orang-orang yang ada diluar lingkungan keuarga dan sekolah, masyarakat umum, para pejabat, para pedagang, para ulama, para pemimpin dsb.
Lingkungan ini ada yang terstruktur ada yang tidak terstruktur, semuanya berpotensi mempengaruhi perkembangan jiwa dan raga anak, baik langsung, maupun tidak langsung,sengaja maupun tidak disengaja.
Menurut ketetapan MPR No. II/MPR/1988, bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga masyarakat dan pemerintahan. Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang system pendidikan nasional pada pasal 9 ayat 1 menyebutkan bahwa satuan pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan disekolah ataupun diluar sekolah. Pada ayat 3 dinyatakan bahwa satuan pendidikan luar sekolah meliputi keluarga, kelompok belajar, dan satuan pendidikan.
            Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa lingkungan sebagai badan atau lembaga tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan adalah keluarga, masyarakat dan pemerintah. 
             Ketika lembaga atau lingkungan pendidkan tersebut pada hakikatnya mempunyai fungsi yang sama, yaitu menyelenggarakan lingkungan pendidikan. Tentu saja mengenai bentuk, isi/materi, sifat, metode dan semacamnya didalam penyelenggaraan pendidikan tersebut berbeda satu dengan yang lain, sesuai dengan kekhususan atau karakteristik masing-masing.
            Lingkungan masyarakt juga diartikan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian anak-anak sesuai dengan keberadaannya. Pada lingkungan keluarga telah dikemukakan perannya dalam pembentukan anak-anak, demikian juga dengan lingkungan sekolah. Lingkungan mayarakat akan memberikan sub bagian yang sangat berarti dalam diri anak apabila diwujudkan dalam proses dan pola yang tepat. Tidak semua ilmu pengetahuan, sikap, ketrampilan, maupun kecakapan, dapat diberikan sekolah ataupun keluarga karena keterbatasan lembaga tersebut. Kekurangan yang dirasakan akan dapat diisi dan dilengkapi oleh lingkungsn masyarakat dalam membina pribadi.
            Lingkungan pendidikan berfungsi sebagai “pengganti” (substitute), hanya menyediakan pendidikan bukan sekedar tambahan atau pelengkap tetapi mengadakan pendidikan yang berfungsi sama dengan lembaga pendidikan formal disekolah, sehingga tidak mampu melayani semua lapisan masyarakat yang ada. Seperti kursus pengetahuan dasar, kursus PKK, atau kursus ketrampilan.
            Lingkungan pendidikan juga mampu menyediakan pendidikan yang berfungsi sebagai tambahan bab suplement. Untuk memantapkan pembelajaran yang ada disekolah/pendidikan formal maka diadakan kursus diluar progam pendidikan formal. Misalnya : bimbingan belajar, bimbingan tes (bagi siswa yang akn melanjutkan ke perguruan tinggi).
            Bagi daerah yang terisolasi atau karena komonikasi belum lancar, pendidikan melalui lingkungan masyarakat  berperan labih aktif bila dibandingkan dengan daerah yang lain (lingkungan masyarakat kota). Lingkungan masyarakat kota lebih ditekankan pada kesibukan dan kebisingan serta individulisme, memaksa setiap anggota masyarakat tidak berpangku tangan tetapi aktif, kreatif, dinamis, dan tidak mengenal menyerah. Menyerah berarti kalah atau mati. Lingkungan desa yang penuh, kaya akan sumber-sumber alam kondisi yang baik untuk berkarya. Dengan demikian, lingkungan ikut menentukan dan mempengaruhi keadaan warga.
            Pendidikan dalam lingkungan masyarakat akan berfungsi sebagai: (a) pelengkap (complementer), (b) pengganti (subtitute), (c) tambahan (suplement), terhadap pendidikan yang diberikan lingkungan.
            Dalam lingkungan ini akan dapat dikembangkan bermacam-macam instansi maupun jawatan dan lembaga pendidikan maupun non-pendidikan. Kegiatan pendidikan yang berfungsi sebagai pelengkap perkembangan individu maupun kelompok ialah kegiatan pendidikan yang berorientasi melengkapi kemampuan, ketrampilan kognitif maupun peformans seseorang, sebagai akibat belum mantapnya apa yang telah mereka terima pada sekolah atau keluarga. Kegiatan seperti ini mencakup antara lain:
·         perkembangan rasa social dalam berkomunikasi dengan orang lain.
·         pembinaan sikap dan kerjasama dengan anggota masyarakat.
·         pembinaan ketrampilan dan kecakapan khusus yang belum didapat disekolah.       
Bentuk-bentuk pendidikan dalam lingkungan masyarakat antara lain dilakukun organisasi pemuda dan kepramukaan atau organisasi lainnya. Seperti yang dilakukan pramuka dalam jambore atau raimuna atau kepramukaan dalam tingkat propinsi, kabupaten atau kecamatan. Disamping itu apa yang dilakukan organisasi lainnya seperti Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), pembinaan pemuda melalui sanggar pemuda atau pembinaan pemuda dengan antar propinsi atau antar negara dan sebagainya. Tidak dapat diabaikan pula keikutsertaan organisasi lainya dalam menyediakan lingkungan pendidikan ini, seperti perkumpulan olah raga dan kesenian.
            Dalam ketetapan porpenas tahun 2000-2004 bagian pendidikan berbunyi sebagai berikut: pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat  manusia. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanankan di dalam lingkunga keluarga, sekolah, dan masyarakat karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antar keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
            Pendidikan seumur hidup memungkinkan terselenggarakannya suatu usaha atau kegiatan pendidikan untuk anak-anak dan orang dewasa, terutama bagi mereka yang tidak berkesempatan sekolah tingkat sekolah dasar. Mereka pada umumnya tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan kerja produkti sehingga sulit memperoleh lapangan kerja yang baik dan layak.
            Hendaknya perlu usaha yang sungguh-sungguh untuk menanamkan, memupuk, dan mengembangkan kesadaran setiap orang atau anggota masyarakat melalui pendidikan. Agar didalam diri mereka tumbuh sikap mental yang positip sehingga dapat ikut serta di dalam proses pembaharuan dan pembangunan lingkungan secara aktif.

2. 2          Karakteristik Lingkungan Pendidikan
Pembahasan tentang karakteristik lingkungan ini ditanjau dari kulitas dan kuntitas pengaruhnya terhadap proses pendidikan. Lingkungan alam merupakan lingkungan yang pasif tetapi juga berpengaruh terhadap pendidikan anak, baik dalam proses belajar maupun dalam pembentukan kepribadian keseluruhannya. Lingkungan alam yang keras akan mengganggu proses pendidikan tetapi juga akan membuat pribadi yang tangguh, ulet dsb.
Lingkungan keluarga yang harmonis akan berpengaruh yang baik bagi perkembangan pribadi anak secara umum dan sebaliknya lingkungan keluarga yang diharmonis akan berpengaruh buruk bagi perkembangan anak. Demikian juga lingkungan budaya.

2. 3          Pemanfaatan dan Fungsi Pendidikan
a)      Lingkungan pendidikan ada yang tidak dapat dikendalikan, ada yang dapat dikendalikan, dan ada juga yang tidak dapat dipengaruhi oleh pendidik tetapi dapat dipengaruhi oleh pihak lain.
1.      Contoh dari lingkungan yang tidak dapat di kendalikan antara lain :
Ø  Banjir
Ø  Tanah longsor
Ø  Gunung meletus
Ø  Gempa bumi
Ø  Dsb
2.      Contoh dari lingkungan yang dapat di kendalikan antara lain :
Ø  Lingkungan sosial contohnya:
·         gotong royong
·         mau ikut mengubur orang yang sudah meninggal
·         saling membantu
·         saling menolong, dsb.
Ø  Lingkungan budaya contohnya:
·         Melestarikan tari daerah
·         Melestarikan seni budaya
·         Melestarikan reog ponorogo
·         Melestarikan alam lingkungan, dsb.
Ø  Lingkungan moral contohnya:
·         Kita bergaul sesama teman.dengan pergaulan tersebut kita dapat mendapatkan efek yang begitu mutlak.yang di maksud di sini kalau kita bergaulnya sama orang yang baik kita juga akan menjadi baik, tapi kalau kita bergaulnya sama orang yang tidak baik kita pun akan menjadi orang yang tidak baik.
3.      Contoh dari lingkungan yang tidak dapat dipengarui oleh pendidik tetapi dapat dipengaruhi oleh orang lain ialah:
Ø  Lingkungan ekonomi contohnya:
·         Kebutuhan ekonomi setiap individu tidak ada yang sama.
Lingkungan sosial, lingkungan budaya, lingkungan moral yang tidak menguntungkan bagi pendidikan dapat diupayakan agar pengaruhnya tidak menyentuh proses pendidikan. Namun orang tua yang miskin, pengaruh lingkungan dari media masalah – masalah sosial dan sebagainya diluar kekuasaan pendidik atau yang disebut guru sehingga pengendaliannya juga harus oleh pihak yang berwenang, misalnya oleh pemerintahan.
Pendidik harus dapat menyeleksi lingkungan yang berpengaruh positif dan menghindari pengaruh yang negative tetapi dalam batas apa yang menjadi kewenangannya termasuk juga mengubah lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk membentuk tercapainya tujuan pendidikan.
b)      Fungsi pendidikan
Dalam membahas fungsi pendidikan ini akan difokuskan pada tiga fungsi pokok pendidikan, yakni:
1.      Pendidikan sebagai penegak nilai
2.      Pendidikan sebagai sarana pengembangan masyarakat
3.      Pendidikan sebagai upaya pengembangan potensi manusia.





BAB III
PENUTUP
3. 1          KESIMPULAN
1.      Lingkungan sekitar terjadinya proses pendidikan merupakan faktor pendidikan yang dapat diubah menjadi alat pendidikan
2.       Lingkungan pendidikan terdiri dari lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya, lingkungan keagamaan
3.      Ada lingkungan yang tidak dapat diperbaruhi, lingkungan yang dapat diperbaruhi, dan ada lingkungan yang tidak dapat di perbaruhi pendidikan tetapi dapat dipengaruhi pihak lain
4.      Tugas pendidik adalah menyeleksi lingkungan yang berpengaruh positif terdapat proses dan hasil pendidikan.
3. 2   SARAN
Sebagai peserta didik wajib  mengelolah lingkungan pendidikan dengan baik karena lingkungan pendidikan sangatlah penting bagi kehidupan semua manusia. Lingkungan pendidikan ialah salah satu sarana untuk pengembangan diri individu. Oleh sebab itu setiap peserta didik harus pintar-pintar memilih lingkungan pendidikannya biar  tidak salah pergaulan.







DAFTAR  PUSTAKA

1.      Drs. H. Sugiono,M.M,2011, Pedagogik Terapan,UNIPA SURABAYA.
2.      Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.
3.      Ali,Mohammad,2007,Ilmu dan Aplikasi, Bandung, Pedagogik.
4.      Budiyanto,dkk,2004, Pengantar Pendidikan Luar Biasa, Surabaya, Unipress.
5.      Refleksi Pendidikan Masa Kini


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar