Laman

Powered By Blogger

Rabu, 27 Maret 2013

Analisis Instruksional di SD



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam melakukan proses instruksional tidak sedikit pengajar melompat ke proses penulisan TIK, tes, bahkan sampai isi pembelajaran, tanpa melalui analisis instruksional. Akibatnya, kegiatan instruksional tidak sistematik karena logika kaitan antara TIU dan TIK, tes, dan isi tidak dapat ditelususri. Suatu sistem terdiri dari berbagai komponen yan fungsinya secara logis saling berkaitan sehingga bila terjadi ketidakoptimalan fungsi salah satu komponennya dapat terdeteksi dan teridentifikasi.
Beberapa implikasi dari proses desain instruksional yang melompat seperti itu antara lain :
1.      Daftar TIK yang disusun kemudian didasarkan pada isi. Prosedur ini terbalik sehingga tidak konsisten dengan TIU-nya. Daftar TIK tersebut mungkin tidak lengkap atau berlebihan. Di samping itu, subkompetensi dan kemampuan (atau kompetensi dasar) belum tentu mengacu kepada kompetensi yang terdapat dalam TIU.
2.      Materi tes tidak rinci karena hanya meliputi kompetensi yang bersifat umum. Kemajuan peserta didik di tengah proses belajar tidak dapat diukur dengan teliti sehingga pengajar tidak dapat memberikan pengajaran remedial yang tepat bagi peserta didik yang sebenarnya masih ketinggalan dari peserta didik yang telah dahulu maju.
3.      Urutan isi kurang sistematik
4.      Titik berangkat kegiatan instruksional tidak sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.
5.      Cara penyajiannya tidak sesuai dengan karakteristik awal peserta didik.
Dari beberapa implikasi tersebutlah dalam menulis sebuah TIK, pendesain instruksional perlu melakukan analisis instruksional. Hasil analisis instruksional ini dikaitkan dengan hasil kegiatan mengidentifikasi kompetensi dan karakteristik awal peserta didik. Atas dasar keduanya, penngembang instruksional dapat menyususn daftar TIK yang relevan dengan TIU.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan analisis instruksional?
2.      Apa tujuan dari analisis instruksional?
3.      Bagaimana struktur penjabaran kompetensi umum menjadi subkompetensi dann kompetensi dasar ?
4.      Langkah-langkah apa saja yang diperlukan untuk melakukan analisis instruksional?
5.      Apa hasil akhir dari analisis instruksional?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui definisi dari analisis instruksional
2.      Mengetahui tujuan melakukan analisis instruksional
3.      Mengerti proses penjabaran kompetensi umum menjadi subkompetensi dan kompetensi dasar.
4.      Mampu melakukan analisis instruksional dengan benar
5.      Mampu menghasilkan tujuan instruksional khusus

D.    Manfaat Penullisan
Ketrampilan melakukan analisis instruksional sangat penting, artinya karena subkompetensi, kemampuan dan penngetahuan, ketrampilan, dan sikap yang harus dicapai lebih dahulu dari yang lain dapat ditentukan dari hasil analisis tersebut.






BAB 2
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Analisis Instruksional
Menurut Dick dan Carey (2005) analisis instruksional adalah sebagai tahapan proses yang merupakan keseluruhan dari pemaparan bagaimana perancang (desainer) menentukan komponen utama dari tujuan instruksional melalui kegunaan analisis tujuan (goal analysis), dan bagaimana setiap langkah dalam tujuan tersebut dapat dianalisis untuk mengidentifikasi keterampilan subordinate atau keterampilan prasyarat.
Analisis instruksional adalah suatu alat yang dipakai oleh para penyusu­n disain instruksional atau guru untuk membantu peserta didik di dalam mengidentifikasi setiap tugas pokok yang harus dikuasai/dilaksanaan oleh siswa dan sub tugas atau tugas dasar yang membantu siswa dalam menyelesaikan tugas pokok (Esseff, P.J.)
Suparman (1997) mengartikan analisis instruksional sebagai proses yang menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis. Kegiatan penjabaran tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang dapat menggambarkan perilaku umum secara terperinci. Yang dimaksud perilaku khusus tersusun secara logis dan sistematis adalah tahapan apa yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu ditinjau dari berbagai alasan. seperti karena kedudukannya sebagai perilaku prasyarat, prilaku yang menurut urutan fisik berlangsung lebih dahulu, perilaku yang menurut proses psikologi muncul lebih dahulu atau kronologis terjadi lebih awal.
Jadi analisis instruksional adalah proses menjabarkan kopetensi umum menjadi subkompetensi, kompetensi dasar atau kopetensi khusus yang tersusun secara logis dan sistematik.
Hasil analisis instruksional adalah peta subkompetensi yang menunjukkan susunan subkompetensi yang paling dasar sampai kompetensi yang paling tinggi seperti yang dirumuskan dalam tujuan instruksional umum.
Untuk melakukan penyusunan seluruh subkompetensi atau kompetensi dasar tersebut dengan benar pendesain instruksional perlu memahami empat macam struktur kompetensi yang akan dikemukakan pada subbab di bawah  ini.

B.     Empat Macam Struktur Perilaku
Bila kompetensi umum diuraikan menjadi subkompetensi, kompetensi dasar atau kompetensi khusus akan terdapat empat macam susunan, yaitu hararkis (hieararchical), prosedural (procedural), pengelompokan (cluster), dan kombinasi (combination).
1.      Struktur Hirarkis
Struktur kompetensi yang hirarkis adalah kedudukan dua kompetensi yang menunjukkan bahwa salah satu kompetensi hanya dapat dilakukan bila telah dikuasia kompetensi yang lain.
Kompetensi B, misalnya dipelajari jika telah melakukan kompetensi A. Kedudukan A dan B disebut hirarkis.
a.       Kedudukan kompetensi “menerapakan Statistik Lanjut” dan “menerapkan Statistik Dasar”. Menerapakan Statistik Lanjut seperti Regresi Ganda dan Analisis Variansi tidak mungkin dipelajari peserta didik bila ia belum mampu menerapkan Statistik Dasar seperti menghitung Skor Rata-rata, Devisi Standar, dan Korelasi Sederhana.
            Kedua kompetensi tersebut tersusun secara hirarkis. Menerapkan Statistik Dasar merupakan prasyarat untuk dapat menerapkan Statistika lanjutan.
b.      Kedudukan kompetensi “mengukur luas sebidang tanah tertentu” terhadap kompetensi “mengukur panjang benda”. Kompetensi mengukur luas sebidang tanah yang terbentang dibelakang rumah misalnya, tidak akan dapat dilakukan bila belum dikuasai cara mengukur panjang benda, walaupun rumus menghitung luas benda telah dikuasai.

Mengukur panjang benda merupakan prasyarat untuk mengukur luas tanah. Keduanya terstruktur secara hirarkis.
c.       Kedudukan kompetensi “mengambil keputusan” terhadap kompetensi “menganalisis alternatif pemecahan masalah”. Kompetensi mengambil keputusan untuk memecahkan masalah tertentu hanya dapat dilakukan bila cara melakukan alnalisis melakukan analisis alternatif telah dikuasai, yaitu teknik membandingkan berbagai alternatif pemecahan masalah dari berbagai segi, seperti segi efisiensi dan efektivitas.

2.      Stuktur Prosedural
Struktur kompetensi prosedural adalah kedudukan beberapa kompetensi yang menunjukkan satu seri atau aturan kompetensi, tetap untuk mempelajarinya tidak ada yang menjadi prasyarat bagi yang lain. Walaupun kedua kompetensi khusus itu harus dilakukan berurutan, untuk dapat melakukannya suatu kompetensi umum setiap kompetensi itu dapat dipelajari secara terpisah.
Berikut ini terdapat contoh kompetensi yang terstruktur secara prosedural.
a.       Dalam melakukan kompetensi umum “lari cepat” terdapat sedikitnya tiga subkompetensi yang terstuktur secara prosedural
Agar dikatakan dapat melakukan kompetensi “lari cepat” dengan baik, ketiga subkompetensi tersebut harus dilakukan secara berurutan. Namun, setiap subkompetensi itu dapat dipelajari secara terpisah. Tidak ada kompetensi yang menjadi prasyarat untuk menjadi prasyarat untuk mempelajari kompetensi yang lain. Ketiga kompetensi tersebut diatas merupakan suatu seri gerakan yang ditampilkan secara berurutan oleh seorang pelari cepat, namun tidak tersusun secara hirarkis. Susunan ketiganya disebut prosedural.
b.      Dalam menggunakan laptop untuk menampilkan bahan powerpoint, sedikitnya ada tiga kompetensi yang tersruktur secara prosedural.
Ketiga kompetensi tersebut dilakukan secara berurutan, namun dapat dipelajari secara terpisah. Namun, di dalam kegiatan keseluruhan ketiga kompetensi tersebut muncul secara berurutan sebagai suatu seri kompetensi.
c.       Dalam mengetik dengan mengguanakan laptop, sedikitnya ada empat kompetensi yang terstuktur secara prosedural

Kompetensi-kompetensi yang tersusun secara prosedural dilukiskan kotak-kotak yang berderat kesamping dan dihubungkan dengan garis horizontal. Dengan demikian, bila kompetensi-kompetensi tersebut dilukiskan dalam suatu bagan akan mudah dibedakan dari kompetensi-kompetensi yang tersusun secara hirarkis yang tampak dihubungkan dengan garis vertikal.
3.      Struktur Pengelompokan
Disamping daftar kompetensi yang dapat diurut sebagai hirarkis dan procedural, terdapat struktur pengelompokan. Struktur ini menunjukan satu rumpun kompetensi yang tidak mempunnyai ketergantungan urutann antara satu dan yang lain, walaupun semuanya berhubungan. Dalam keadaan seperti itu, garis penghubung antara kompetensi yang satu dan yang lain tidak diperlukan.

    a.         Aceh
   b.         Riau
    c.         Sumatra Utara
   d.         Sumatra Barat
    e.         Jambi
    f.          Sumatra Selatan
   g.         Bengkulu
   h.         Lampung

Menunnjukkan batas provinsi yang satu dan provinsi yang lain tidak terkait secara hirarkis, tidak pula secara procedural. Seseorang dapat mulai dari menunjukkan batas provinsi Lampung sampai Aceh atau sebaliknya, bahkan dapat pula mulai dari provinsi di bagian tengah ke selatan kemudian ke utara. Bila digambarkan dalam bagan, kedudukan kompetensi-kompetensi tersebut tampak sebagai berikut :

Contoh lain dari kompetensi pengelompokan dapat Anda jumpai dalam menilai keberhasilan dan kegagalan perang melawan penjanjah menjelang kemerdekaan, hubungan fungsi organ tubuh manusia, dan membedakan ruang lingkup berbagai jurusan dalam suatu fakultas.
4.      Struktur Kombinasi
Sruktur kombinasi adalah gabungan dari dua atau tiga struktur kompetensi. Suatu kompetensi umum bila diuraikan menjadi subkompetensi dapat terstruktur secara kombinasi dari struktur hirarkis, procedural, dan pengelompokan.
Kompetensi umum melakukan lari cepat dapat diuraikan menjadi beberapa subkompetensi sebagai berikut.

 

Kompetensi umum melakukan lari cepat terbentk dengan cara merangkaikan tiga subkompetensi yaitu start, lari, dan melintasi garis finish. Kompetensi merangkaikan ketiga kompetensi khusus tersebut hanya dapat dilakukan bila satu persatu dari ketiga kompetensi tersebut telah dikuasai. Dengan demikian, merangkai start, lari, dan melintasi garis finishmembutuhkan prasyarat melakukan setiap gerakan tersebut satu per satu. Mana yang lebih dahulu harus dilakukan di antara ketiga gerakan tersebut? Terserah pendisain instruksional. karena itu kedudukan ketiga gerakan tersebut antara satu dengan yang lain terstruktur secara procedural. Mengapa? Karena merangkaikan ketiganya pasti dimulaidari start, dilanjutkan dengan lari,dan diakhiri dengan melintasi garis finish. Kompetensi “melakukan start “ mensyaratkan kemampuan menjelaskan teknik start. Demikian pula, kompetensi “lari” mensyaratkan kompetensi menjelaskan teknik lari. Sedangkan kompetensi “melintasi garis finish” mensyaratkan kemampuan menjeaskan teknik melintasi garis finish. Bagan di atas menunjukkan struktur kombinasi antara procedural dan hirarkis.
Untuk menjabarkan kompetensi umum menjadi subkompetensi dalam kawasan kognitif, psikomotor, dan afektif terlebih dahulu perlu diberikan definisi tentang ketiga kawasan tersebut.
a.         Kompetensi kawasan kognitif
Kompetensi kawasan kognitif adalah kompetensi yang merupakan dari proses berpikir. Dalam bahasa sederhananya adalah kompetensi hasil kerja otak.
              ·          Bloom (1956)
Membagi kawasan kognitif menjadi enam tingkatan :

                            -          Pengetahuan
                            -          Pemahaman
                            -          Penerapan
                      -          Analisis
                      -          Sintesis
                      -          Evaluasi

Contoh : menyebutkan definisi makhluk hidup, membedakan fungsimeja dan kursi, menceritakan kembali isi dongeng
           ·          Gagne (1979)
Membagi kemampuan manusia menjadi tiga macam ;
ketrampilan intelektual                        àketrampilan teknis dalam
    ilmu pengetahuan
ketrampilan strategi kognitif               àketrampilan dalam mencari
    pemecahan masalah
ketrampilan informasi verbal               àketrampilan
    mengungkapkan kembali
    pengetahuan verbal yang
    telah dimiliki
b.         Kompetensi kawasan psikomotor
Kompetensi kawasan psikomotor adalah kompetensi yang dimunculkan oeh hasil kerja fungsi tubuh manusia. Jadi berbentuk gerakan tubuh. Contohnya adalah berlari, melompat, melempar berputar, memukul, dan menendang. Dave (1967) membagi kompetensi kawasan psikomotor dalam lima jenjang kompetensi khusus, yaitu :
           ·          Menirukan gerak
           ·          Memanipulasi kata – kata menjadi gerak
           ·          Melakukan gerak dengan tepat
           ·          Merangkaikan berbagai gerak
           ·          Melakukan gerak dengan gerak wajar dan efisien
c.         Kompetensi kawasan afektif
Kompetensi kawasan afektif adalah kompetensi yang dimunculkan seseorang sebagai pertanda kecenderungannya membuat pilihan atau keputusan untuk beraksi dalam lingkungan tertentu.
Contoh : menganggukkan kepala ditafsirkan sebagai tanda setuju, meloncat dengan muka berseri-seri sebagai tanda kegirangan, dan pergi beribadah sebagai tanda beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bloom dan Mansia (1964) membagi kawasan ini menjadi lima tingkatan kemampuan, yaitu :
           ·          Menerima nilai
           ·          Membuat respon terhadap nilai
           ·          Menhargai nilai-nilai yang ada
           ·          Mengorganisasikan nilai, dan
           ·          Mengamalkan nilai secara konsisten (internalisasi nilai)
Untuk menafsirkan sikap orang lain dapat dilihat dari perilakunya atau gejala yang dtimbulkannya. Penafsiran seperi ini sangat sulit. Kunci utamanya terletak pada bagaimana menafsirkan perilaku tertentu sebagai sikap tertentu.
Tabel.B.1 Penafsirkan kemampuan seseorang
Kapabilitas
Cara Penafsiran
Kemungkinan yang Terjadi
Kawasan kognitif
Dilihat dari hasil jawaban tes
Hasil tidak murni pekerjaan sendiri
Kawasan psikomotor
Hasil gerakan
Melihat teman/ berpura-pura
Kawasan afektif
Dilihat dari perilaku atau sikap
Berpura-pura
Jadi kunci dari dapat atau tidaknya kompetens itu dijadikan alat untuk menafsirkan kemampuan orang, baik dalam kawasan kognitif, psikomotor, maupun afektif itu terletak pada cara atau metode dan instrumen yang digunakan untuk memunculkan kompetensi tersebut, bukan tergantung pada jenis kawasan kompetensi tersebut.
Cara menjabarkan kompetensi umum menjadi subkompetensi dalam kawasan afektif pada dasarnya tidak berbeda dengan kawasan kognitif dan psikomotor. Setelah diketahui kompetensi umum yang terdapat dalam tujuan instruksional umu, pengembang instruksional selanjutnya mencari jawaban atas pertanyaann sebgai berikut :“Subkompetensi apa saja yang mengacu pada munculnya kompetensi umum tersebut?” Untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan tersebut, pengembang instruksional melakukan analisis instrusional dengan langkah-langkah yang tercantum dalam subbab berikut ini.

C.    Langkah-Langkah Melakukan Analisis Instruksional
Berikut ini adalah langkah-langkah untuk digunakan dalam melakukan analisis instruksional
1.      Menulis perilaku umum yang telah anda tulis dalam Tujuan Instruksional Umum (TIU) untuk mata pelajaran yang sedang anda kembangkan.
2.      Menulis perilaku khusus yang menurut anda menjadi bagian dari perilaku umum tersebut. Jumlah perilaku khusus untuk setiap perilaku umum berkisar antara 5-10 buah. Bila sangat diperlukan anda masih mungkin menambahnya lebih banyak.
3.      Menyusun perilaku khusus tersebut ke dalam suatu daftar dalam urutan yang logis dimulai dari perilaku umum, perilaku khusus yang paling “dekat” hubungannya dengan perilaku umum diteruskan “mundur” sampai perilaku yang paling jauh dari perilaku umum.
4.      Menambah perilaku khusus tersebut atau mengurangi jika perlu. Tanamkan dalam pikiran anda, bahwa anda harus berusaha melengkapi daftar perilaku khusus itu.
5.      Menulis setiap perilaku khusus tersebut dalam suatu lembar kartu atau kertas ukuran 3 x 5 cm.
6.      Menyusun kartu tersebut di atas meja atau lantai dengan menempatkannya dalam struktur hirarkikal, prosedural atau pengelompokan, menurut kedudukan masing-masing terhadap kartu yang lain. Letakkan kartu-kartu tersebut sejajar atau horisontal untuk perilaku-perilaku yang mempunyai struktur prosedural dan pengelompokan serta letakkan secara vertikal untuk perilaku-perilaku yang hierarkikal. Dalam proses ini anda seolah-olah sedang bermain kartu dengan cara mencocokkan letak suatu kartu diantara kartu yang lain. Hal itu akan mengasyikkan, mungkin bisa memakan waktu berjam-jam.
7.      Jika perlu, tambahkan dengan perilaku khusus lain yang dianggap perlu atau kurangi bila dianggap lebih. Sampau batas ini, anda harus yakin betul bahwa tidak ada perilaku khusus yang masih ketinggalan atau kelebihan, serta susunannya menurut struktur hierarkikal, prosedural, pengelompokan, atau kombinasi.
8.      Menggambar letak perilaku-perilaku tersebut dalam bentuk kotak-kotak di atas kertas lebar sesuai dengan letak kartu yang telah anda susun. Hubungkan kotak-kotak yang telah anda gambar tersebut dengan garis-garis vertikal dan horisontal untuk menyatakan hubungannya yang hierarkikal, prosedural, atau pengelompokan.
9.      Meneliti kemungkinan menghubungkan perilaku umum yang satu dan yang lain atau perilaku-perilaku khususs yang berada di bawah perilaku umum yang berbeda.
10.  Memberi nomor urut pada setiap perilaku khusus yang dimulai dari yang terjauh sampai ke yang terdekat dengan perilaku umum.
11.  Mengkonsultasikan atau mendiskusikan bagan yang telah anda susun denga teman sejawat untuk mendapatkan masukan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam diskusi tersebut adalah:
a.       Lengkap tidaknya perilaku khusus sebagai penjabaran dari setiap perilaku umum;
b.      Logis tidaknya urutan dari perilaku-perilaku khusus menuju perilaku umum;
c.       Struktur hubungan perilaku-perilaku khusus tersebut (hierarkikal, prosedural, pengelompokan, atau kombinasi)




















BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan
Langkah kedua dalam MPI, melakukan analisis instruksional adalah kegiatan menjabarkan atau memecah kompetensi umum menjadi subkompetensi, kompetensi dasar, atau kompetensi khusus yang lebih kecil atau spesifik serta mengidentifikasi hubungan antara kompetensi khusus yang satu dan kompetensi khusus yang lain. Konsep MPI dalam proses penjabaran kompetensi umum menjadi kompetensi khusus tidak berorientasi pada suatu taksonomi kompetensi tertentu, seperti taksonomi yang disusun oleh Gagne atau Bloom.Proses menganalisis instruksional yang digunakan oleh MPI didasarkan pada berpikkir logis, analitik dann sistematik.


















DAFTAR PUSTAKA

Bloom, Benjamin S.1956.Taxonomy of Education Objective: The Classification of Educational Goals, Handbook I: Cognitif Domain. New York: Longman Inc.
Dick W., Carey, Lou, and Carey, James O.2009.The Systematic Design of Instructional (7nd Ed). New Jersey: Pearson.
Suparman, Atwi M. 2012.Desain Instruksional Modern.Jakarta: Erlangga