Laman

Powered By Blogger

Kamis, 28 Maret 2013

kebutuhan instruksional



BAB I
Pendahuluan

A.   Latar Belakang
Bab ini mengupas langka permulaan dari proses pengembangan instruksional, yaitu mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan penulisan tujuan instruksional umum (TIU).
Langka ini adalah titik tolak dan sumber bagi langkah-langkah berikutnya. Karena itu, kebingungan yang terjadi dalam langka permulaan ini akan menyebabkan seluruh kegiatan pengembangan instruksional kehilangan arah. Langkah ini merupakan rangkaian dari dua kegiatan yang dijadikan satu karena keduanya sangat berkaitan. Hasil kegiatan pertama  yaitu mengidentifikasi kebutuhan instrusional. Tidak lain daftar pengetahuan, keteraampilan dan sikap yang masih belum dikuasai siswa dan perlu dikuasai siswa. Atas dasar hasil kegiatan pertama ini dilakukan langkah yang kedua yaitu perumusan TIU.
Kerena itu, setelah memepelajari Bab ini anda diharapkan dapat melakukan dua hal yaitu menerapkan prosedur mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan menulis TIU. Marilah kita ikuti uraian dan contoh setiap kegiatan di atas.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian dari kebutuhan instruksional:
2.      Siapa yang membutuhkan kebutuhan instruksianal?
3.      Bagaimana langkah-langkah untuk mengidentifikasi kebutuhan intruksional?
4.      Bagaimana cara menulis tujuan intstruksional umum?





C.   Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diambil tujuan masalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian dari kebutuhan instruksional
2.      Untuk mengetahui siapa yang membutuhkan kebutuhan instruksional
3.      Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah kebutuhan instruksional
4.      Untuk mengetahiu cara menulis tujuan instruksional umum

D.   Manfaat Penulisan
Hasil penulisan makalah ini diharapkan memberikan pengertian dan manfaat bagi mahasiswa dan pembacanya. Ada beberapa manfaat yang dapat kami lampirkan, antara lain:
1.      Sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa dan pembaca untuk reverensi belajar
2.      Memberikan kemudahan untuk memahami materi pembelajaran karena di ambil dari sumber yang ada
3.      Memperkaya dan mengembangkan kemampuan dalam kehidupan secara memperluas pengetahuan mahasiswa dan pembacanya.











BAB II
Pembahasan
A.  Mengidentifikasi Kebutuhan Instruksional
1.      Pengertian Kebutuhan Instruksional
Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya. Dengan perkataan lain, setiap keadaan yang kurang dari yang seharusnya menunjukkan adanya kebutuhan. Apabila kedua keadaan itu beras atau menimbulkan akibat lebih jauh sehingga perlu ditempatkan sebagai prioritas untuk diatasi, kebutuhan tersebut disebut masalah.
Dalam bidang pendidikan misalnya, keadaan saat ini menunjukkan lambatnya para lulusan menerima ijazah dari perguruan tinggi tempat mereka kuliah. Setelah diteliti ternyata penyebabnya adalah tidak adanya petugas khusus yang diberi tanggung jawab menyelesaikan ijazah tersebut. Dalam keadaan seperti ini masalah yang muncul adalah tidak adanya tenaga yang diberi tugas untuk mempersiapkan mencetak dan menyerahkan ijazah kepada lulusan. Untuk menyelesaikan masalah ini diperlukan pengadaan tenaga khusus untuk tugas tersebut. Tenaga ini mungkin diambilkan dari unit lain atau direktur baru.
Suatu contoh lain, buruknya hasil dari cetakan majalah yang dikeluarkan suatu lembaga pendidikan, sehinggmenyebabkan munculnya protes dari pembacanya. Setelah diteliti ternyata hal tersebut disebabkan mesin yang tidak berfungsi dengan normal. Untuk itu diperlukan perbaikan atau penggantian beberapa bagian dari mesin itu.
Kedua contoh sederhana diatas tidak berhubungan langsung dengan system instruksional. Keduanya bukan kebutuhan insternasional. Memang tidak semua kebutuhan dan  masalah dapat disebut sebagai kebutuhan instruksional karna belum tentu memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan instruksional.
Sering kali orang mempercampuradukkan  kebutuhan (needs) dengan kegiatan (wants). Kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya. Kebutuhan yang menjadi prioritas untuk dipecahkan adalah masalah. Sehingga dapat dikatakan kalau orang menyebut kebutuhan. Pikiran kita mengkaitkannya dengan masalah. Sedangkan keinginan atau cita-cita (desire) terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah.
Karena itu Kaufman (1982) mengajak kita untuk menghentikan kebiasaan melompat ke pemecahan masalah (keingingan) sebelum kita yakin apa masalah yang kita hadapi. Bila dapat menghentikan kebiasaan yang keliru itu kita akan menghemat biaya, waktu  dan sumber daya manusia.
Proses identifikasi kebutuhan yang dimulai dari mengidentifikasi kesenjangan antara keadaan sekarang dengan keadaan yang dihadapkan sekaligus dilanjutkan sampai kepada proses pelaksanaan pemecahan masalah dan evaluasi terhadap efektifitas dan efesiensinya. Hal ini dapat dipahami karena para ahli dalam bidang ini membahas proses penilaian kebutuhan (need assessment) secara tersendiri. Bila mereka tidak mengaitkannya dengan proses selanjutnya, yaitu pelaksanaan pemecahan masalah dan evaluasinya. Proses menilai kebutuhan itu akan kehilangan makna.
Tetapi lain halnya yang dibahas dalam buku ini. Proses tersebut ditempatkan sebagai bagian pemulaan dari proses pengembangan. Sedangkan dari proses pengembangan sendiri adalah bagian pemulaan dari siklus kegiatan instruksional yang masih harus diikuti dengan pelaksanaan dan evaluasi instruksional. Karena itu,dalam bab ini mengidentifikasi kebutuhan instruksional itu hanya sampai pada perumusan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang perludiajarkan kepada siswa. Selanjutnya, hasil tersebut dijadikan dasar perumusan TIU.

2.      Kebutuhan siapa?
Dari hasil evaluasi pada akhir suatu pelajaran siswa berpendapat bahwa apa yang diperoleh dalam pembelajaran itu kurang berguna bagi mereka. Di samping itu, penyajiannya tidak menarik serta sulit dipahami. Mereka berpendapat bahwa sebagianisi mata pelajaran itu kurang relevan. Disamping itu, tesnya kurang tersusun dengan baik. Mkasalahnya adalah kurang baiknya kualitassistem instruksional untuk mata pelajaran tersebut. Untuk mengatasi masalah ini mata pelajaran itu harus didesain kembali.
Dari contoh diatas dapat dilihat pendapat dari pihak siswa dan mengajar tentang kesenjangan kualitas instruksional dalam suatu mata pelajaran. Keduanya kebetulan satu pendapat. Tetapi, dalam kasus yang lain pendapat kedua pihak tersebut mungkin berbeda.
Siapa sebenarnya yang menentukan ada tidaknya kebutuhan instruksional? Apakah pendidik termasuk di dalamnya pengajar dan pengelola program pendidikan, orang tua atau masyarakat?
Kaufman dan English (1979) menjawab: ‘mereka semua’.  Bagaimana dengan siswa? Apakah siswa tidak perlu didengar apa masalah atau kebutuhan yang dihadapinya? Dick dan Carey (1985) mengutip Rossett (1982) yang mengatakan keharusan melibatkan siswa dalam proses mengidentifikasi kebutuhan. Siswa yang dilibatkan dalam mengidentifikasikan masalah ini haruslah siswa yang sudah matang terutama siswa yang sudah bekerja agar dapat memberikan gambaran masalah yang relevan dengan pekerjaannyasehari-hari. Dengan demikian, dapat diharapkan bahwa pelajaran yang diterimanyasesuai dengan kebutuhannya.
Jadi, ada tiga kelompok yang dapat dijadikan sumber informasi dalam mengidentifikasi kebutuhan instruksional, yaitu:
a.       Siswa (tterutama siswa yang sudah bekerja)
b.      Masyarakat (termasuk orang tua dan orang tua yang akan menggunakan lulusan)
c.       Pendidik (termasuk pengajar dan pengelola program pendidikan.


Harles (1975) melukiskan ketiga pihak tersebut dalam bentuk segitiga sebagai berikut
pendidik
Masyarakat yang akan dilayani
siswa
Kemampuan yang ingin dicapai (tujuan)

Gambar: hubungan kerja sama dan partisipasi ketiga pihak tersebut sangat menentukan kebersihan dalam mengidentifikasi kebutuhan instruksional.

Secara umum informasi yang akan dicari dalam proses mengidentifikasi kebutuhan instruksional adalah kompetensi siswa saat ini dan kopetensi siswa yang seharusnya dikuasai agar ia atau mereka dapat dilaksanakan pekerjaan atau tugasnya dengan baik.
Bagi seorang pengembang instruksional informasi yang bermanfaat adalah informasi tentang kurangnya prestasi siswa yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau ketrampilan siswa, bukan yang disebabkan oleh kekurangan perataan kerja. Sikap atasan atau lingkungan kerja lainnya.  Hanya masalah yang disebabkan kurangnya siswa dalam mendapatkan kesempatan pendidikan atau training yang dapat diatasi dengan kegiatan instruksional.
Sering kali pengembangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa setiap indicator yang menunjukkan rendahnya prestasi siswa atau pegawai harus diselesaikan dengan pemberian pelajaran atau latihan. Seharusnya pengembangan instrusional melakukan satu langkah tambahan yaitu mencari factor penyebab kekurangmampuan siswa sebelum menentukan cara membantunya dalam mencapai kemampuan yang diharapkan. Siswa yang mempunyai kemampuan rendah mungkin disebabkan oleh berbagai hal seperti suasana hidup dirumah bersama keluarga, peralatan belajar, atau biaya. Dalam situasi seperti itu biarpun ia diberi pelajaran atau latihan berulang kali, hasinya tidak akan menggembirakan karena pemberian pelajaran atau pelatihan bukanlah pemecahan masalah yang tepat.
Untuk menghindari kesalahan dalam memutuskan cara memecahkan masalah, berikut ini disampaikan langkah-langkah yang sistematik dalam menentukan kebituhan instruksional.
3.         Langkah-Langkah Mengidentifikasi Kebutuhan Instruksional
Mengidentifikasi kebutuhan instruksional adan suatu proses untuk:
a.       menentukan kesenjangan penampilan siswa yang disebabkan kekurangan kesempatan mendapatkan latihan pada masa lalu
b.      Mengidentifikasi bentuk latihan atau kegiatan instruksional yang paling tepat
c.       Menentukan populasi sasaran yang dapat mengikuti kegiatan instruksional tersebut.
Langkah 1
Mengidentifikasi  kesenjangan hasil produk atau prestasi siswa atau karyawan saat ini dengan hasil yang seharusnya,berarti menjelaskan perbedaan antara hasil atau produksi kerja saat ini dengan yang diharapkan. untuk mendapatkan kedua jenis data ini pengembang instrusional dapat membaca dari laporan tertulis (bila ada),observasi,interviu,kuesione,atau data dari dokumen lain yang dapat dipercaya yang terdapat disekolah atau tempat kerja siswa atau karyawan. Data tersebut harus menyangkut hasil produk atau prestasi, bukan proses belajar siswa atau proses kerja karyawan.
Langkah 2
Mengetahui hasil kesenjangan hasil seperti yang di kemukakan dalam langkah 1 di atas tidaklah  cukup untuk mengambil suatu tindakan memecahkan masalah. pengembang instruksional harus menilai kesenjangan tersebut dari segi:
a.       Tingkat signifikasi pengaruhnya
b.      Luas ruang lingkupnya
c.       Pentingnya peranan kesenjangan tersebut terhadap masa depan lembaga atau program.
Menilai segnifikasi pengaruh suatu kesenjangan tersebut untuk diatasi, merupakan hal yang relatif. Pengembangan instruksional harus mampu menyajikan nilai kerugian yang ditimbulkan kesenjangan tersebut dalam bentuk: uang, waktu, pemborosan bahan, penyusutan produksi kerja, penyusutan kualitas kerja, bahaya yang ditimbulkandan factor-faktor yang tidak dapat dihitung dalam bentuk biaya, seperti menurunya rasa aman, berkurangnya kerja sama, dan merosotnya motivasi.
Mager dan Pipe (1984) memberi contoh sederhana cara menghitung nilai kesenjangan dalam bentuk uang.
Seorang pengawas (supervisor) mengeluh tentang bahan yang harus dikerjakan kembali oleh 12 pengetiknya. Kurang lebih 12% dari waktu kerja digunakan mengerjakan kembali kesalahan-kesalahan dalam mengetiknya. Bila kesenjangan ini dihitung dengan uang, dalam waktu satu tahun akan menjadi $ 72.000 atau sekitar Rp 125.000.000,00. Angka ini diperoleh dari hitungan sebagai berikut:
Upah rata-rata per jam $ 12
Mereka bekerja 5 hari (seminggu)= 48 minggu (setahun)
Jadi, 48 (minggu) x 5 (hari) x 2 (jam) x 12 (orang) x $12 (upah per jam) = $ 72.00.
Bila kensenjangan tersebut dianggap tidak menjadi prioritas yang harus diatasi, maka kesenjangan tersebut tidak dianggap sebagai masalah yang harus diatasi. Tetapi, bila tidak ada kesenjangan yang lain kecuali kesenjangan tersebut maka, kesenjangan mempunyai pengaruh yang berarti. Kesenjangan tersebut pempunyai ruang lingkup luas, dan penting. Maka perlu di teruskan ke langka 3
Langkah 3
a.       Menganalis kemungkinan penyebab kesenjangan melalui pelaksanaan observasi ,interviu,dan analisis logis
b.      Memisahkan kemungkinan penyebab yang tidak berasal dari kekurangan pengetahuan ,ketrampilan dan sikap untuk diserahkan penyelesaiannya pada pihak lain
c.       mengelompokan kemungkinan penyebab yang berasal dari kekurangan pengetahuan,keterampilan dan sikap tertentu untuk diteruskan ke langkah 4.
Langkah 4
Menginterviu siswa atau karyawan yang bersangkutan untuk memisahkan antara yang sudah pernah dan yang belum pernah memperoleh pendidikan atau latihan dalam bidang kerjanya. Siswa yang sudah pernah mendapatkan pendidikan dan latihan meneruskan ke langkah 5, sedangkan yang tidak pernah mendapatkan pendidikan dan latihan tersebut meneruskan ke langkah 8.
Langkah 5
Selanjutnya, mengelompokkan yang sudah pernah mendapatkan pendidikan dan latihan dalam dua kelompok. Yaitu yang sering dan yang jarang. Kemudian terus ke langkah berikutnya, yaitu langkah ke 6 dan 7.
Langkah 6
Kelompok yang telah sering mendapatkan pendidikan dan latihan diberi umpan balik atas kekurangannya dan diminta mempraktikkannya kembali sampai dapat melakukan tugasnya seperti yang diharapkan.
Langkah 7
 Kelompok yang masih jarang mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan dan latihan dalam pengetahuan,  ketrampilan atau sikap yang relevan dalam bidang kerjanya diberi kesempatan mempraktikkan lebih banyak apa yang telah diperolehnya dari pendidikan atau latihan masa lalu. Supervise dari dekat diperlukan sampai mereka mencapai hasil kerja yang diharapkan.
Langkah 8
Untuk kelompok siswa atau karyawan yang belum pernah mempelajari pengetahuan, ketrampilan dan sikap tersebut, pengembangan instruksional terlebih dahulu merumuskan tujuan instruksional umum (TIU). Dalam contoh diatas ketrampilan yang harus masuk dalam TIU tersebut adalah mengetik dengan teknik yang benar dengan skor minimal tertentu. Bagaimana mengidentifikasi kebutuhan instrusional untuk program pendidikan yang lain, seperti mata kuliah yang banyak berorientasi pada kegi akademis-teoretis?
Mengidentifikasi kebutuhan instruksional adalah kegiatan awal dari kegiatan menentukan tujuan instruksional umum. Seorang pengajar yang telah atau baru akan mengajarkan mata pelajaran yang sudah biasa diajarkan di lembaga tempat ia mengajar, seperti di perguruan tinggi pada umumnya, tidak melakukan proses mengidentifikasi kebutuhan instruksional seperti yang telah digambarkan di atas karena berbagai alasan.
Pertama, siswa yang mengikuti mata pelajaran itu umumnya belum bekerja. Bahkan, mereka belum tentu tahu jenis pekerjaan yang akan dihadapinya kelak. Walaupun ada yang bekerja saat ini. Mereka tidak bekerja dalam bidang yang sama.
Kedua, mata pelajaran yang akan diajarkan telah tertentu, bahkan seringkali telah ditentukan ruang lingkup dan garis besar isinya oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan.
Ketiga, mata pelajaran itu belum tentu hanya terkait kepada satu jurusan atau program studi. Tetapi mungkin bersifat umum seperti Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). mata kuliah wajib Fakultas dan semacamnya. Kadang-kadang mata kuliah seperti itu terkait dengan kebudayaan dan filsafat Negara.
Dalam keadaan seperti itu pengembangan instruksional tidak mungkin melakukan indentifikasi kebutukan instruksional yang berorientasikan kepada pekerjaan tertentu. Pengajar sineor, pengembang kurikulum, para ahli, pimpinan lembaga pendidikan yang mewakili kelompok pendidik dan pembimbing lembaga pemerintah dan perisahaan swasta yang akan menggunakan lulusa dapat dijadikan sumber pemberian informasi tentangkebutuhan instruksional untuk mata pelajaran tersebut. Tyler (1949) menggolongkan pengajar yang disebut artistic teachers. Walaupun tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang tujuan instruksional, mereka mempunyai intuisi tentang  apa yang dimaksud  dengan mengajar yang baik, apa bahan-bahan pelajaran yang baik, apa isi pelajaran yang sebaiknya diajarkan dan bagaimana mengembangkan topic-topik yang efektif bagi siswa. Demikian pula dengan pimpinan lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan dan perusahaan swasta memperoleh informasi yang berharga bagi pengembangan instruksional dalam mengidentifikasi kebutuhan instruksional. Kemudian informasi itu dianalisis dan hasilnya dijadikan dasar untuk merumuskan tujuan instruksional umum dan komponen berikutnya.
Disamping itu, sumber lain yang tidak kalah pentingnya adalah rumusan TIU untuk mata kuliah yang samadi lembaga lain. Bila rumusan TIU tersebut telah ada. Pengembang instruksional dapat diharapkan mampu menyusun rumusan TIU yang dapat diterima oleh berbagai pihak yang bersangkutan.
TIU yang telah dirumuskan atas dasar hasil interviu dengan kelompok pendidik dan masyarakat yang akan menggunakan lulusan perlu petunjuk kembali kepada pihak yang diinterviu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
a.       apakah TIU ini konsisten dengan tujuan kurukuler, tujuan instruksional dan tujuan pendidikan secara nasional?
b.      Apakah siswa yang mengambil mata pelajaran tersebut dapat mencapai pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang tercantum dalam TIU tersebut, apakah kjolompok pendidikan dan masyarakat yang akan menggunakan lulusan itu telah puas?
c.       Apakah pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dirumuskan dalam TIU itu penting bagi kehidupan siswa?
Khusus pertanyaan nomor 3, pengembang instruksional perlu mengumpulkan datadari sekelompok siswa yang dapat mewakili populasi sasaran di samping dari kelompok pendidik dan masyarakat.     Usaha pengembangan instruksional untuk mendapatkan rumusan TIU yang mencerminkan kebutuhan ketiga pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan tersebut tidaklah mudah, setidak-tidaknya pengembanginstruksional harus melalui jalan yang panjang. Usaha seperti ini sangat penting artinya untuk menentukan dapat tidaknya kualitaslulusan suatu program pendidikan diterima oleh masyarakat dan pendidik serta dapat memenuhi kebutuhan hiduplulusan itu sendiri.

B. Menulis Tujuan Instruksional Umum
      Dari kegiatan mengidentifikasi kebutuhan intruksional diperoleh jenis pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang tidak pernah dipelajaari atau belum dilakukan dengan baik oleh siswa. Jenis pengetahuan, ketrampilan, dan sikap tersebut masih bersifat umum atau garis besar. Ia merupakan hasil belajar yang dharapkan dikuasai siswa setelah menyelesaikan program pendidikan. Hasil belajar ini disebut tujuan instruksioanal. Karena sifatnya yang masih umum, maka disebut tujuan instruksional umum.
      Bloom (1977) membagi tujuan instruksional menjadi tiga kawasan menurut jenis kemampuannya yang tercantum didalamnya.tujuan yang mempunyai titik berat kemmpuan berfikir disebut tujuan dalam kawasan kognitif. Kemampuan mengingat, memahami, menerapkan , menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi sesuatu merupakan jenjang kemampuan dalam kawasan ini. Tujuan yang mempunyai focus ketrampilam melakukan gerak fisik disebut tujuan dalam kawasan psikomotorik. Kemampuan meniru melekukan suatu gerak, memanipulasi gerak, merangkaikan berbagai gerakan, melakukan gerakan dengan tepat dan wajar adalah bagian dari kawasan psikomotorik. Tujuan yang lain, yang berintikan kemampuan bersikap disebut tujuan dalam kawasan efektif.
Tujuan instruksional dalam kawasan manapun harus dirumuskan dalam kalimat dengan kata kerja dan operasional, serta yang menunjukkan kegiatan yang dapat dilihat. Kalimat siswa akan dapat menjelaskan atau menguraikan sesuatu lebih tepat digunakan daripada siswa dapat mengerti, memahami, atau mengetahui.
Perhatikan contoh dibawah ini:
a. Siswa akan dapat menggunakan desain penelitian yang sesuai dengan proyek penelitian yang akan dilakukannya.
b.Siswa akan dapat menyusun rencana kegiatan proyek dengan menggunakan PERT (program evaluation and review techniques)
c. Siswa akan dapat mendemonstrasikan lompat tinggi gaya flop (suatu gaya lompat tinggi yang digunakan kebanyakan juara saat ini).
Ketiga contoh instruksional umum (TIU) diatas masing-masing terdiri empat bagian. Pertama, orang yang belajar. Dalam kalimat-kalimat diatas orang belajar adalah siswa, bukan pengajar atau bukan orang lain. Tujuan harus berorientasi pada siswa. Seringkali pengajar atau pengelolah pendidikan yang lain membuat perumusan yang berorientasi kepada mereka, bukan kepada siswa seperti dua contoh berikut ini :
a.    Tujuan pembelajaran ini adalah mengajarkan penerapan berbagai desai penelitian
b.   Program ini akan membahas secar mendalam prosedur penyusunan kegiatan proyek berdasarkan PERT.
Kedua contoh perumusan tujuan tersebut, diatas tidak memperhatikan apa yang akan dicapai siswa. Keduanya dapat ditafsirkan bahwa sepanjang pengajar membahas atau mengajar pelajaran yang dimaksud atau program pengajaran berisi pelajaran tersebut, maka tujuan telah tercapai, walaupun siswa belum dapat melakukan apa-apa.
Kedua, istilah yang digunakan adalah “akan dapat” bukan dapat atau sudah dapat karena tujuan itu dirumuskan sebelum siswa mulai belajar. Tujuan itu akan dicapai setelah proses belajar. Istilah akan dapat itu dihubungkan dengan kata kerja yang menunjukkan hasil belajar bukan kata kerja yang berorientasi kepada proses belajar seprti (siswa) mempelejari, membaca. Tujuan harus berorientasi kepada hasil belajar, bukan kepada proses belajar. Dengan demikian, bila ada perumusan yang berbunyi : “ siswa akan mempelajari berbagai desain penelitian atau membaca prosedur penyusunan rencana kegiatan proyek”, dapat ditafsirkan bahwa sepanjang siswa telah melakukan proses tersebut, maka tujuan telah tercapai, walaupun siswa belum berhasil “memahami” apa yang telah dipelajarinya sebagai suatu tujuan; yang penting bukanlah siswa telah melakukan proses belajar tertentu, seperti dapat menyusun desain penelitian atau menyusun rencana kegiatan proyek.
Ketiga, kata kerja dalam tujuan instruksional haruslah berbentuk kata kerja aktif dan dapat diamati, seperti menyusun, menggunakan atau mendemonstrasikan. Bandingkanlah dengan kata kerja memahami, mengetahui, dan merasakan yang tidakdapat diamati oleh mata. Dick Carey (1985) menggunakan contoh tujuan yang biasa digunakan oleh banyak bank sebagai berikut: karyawan bank akan mengetahui atau memahami nilai pelayana yang hormat dan ramah.
Kata mengetahui atau memahami dapat berarti menjelaskan atau dapat pula berarti melakukan. Kemampuan menjelaskan dan melakukan sangat besar bedanya. Karena itu, istilah memahami disebut tidak jelas dan tidak pasti karena berarti mengandung banyak pengertian, sehingga perlu dihindari.
Keempat, tujuan instruksional mengandung objek seperti desain penelitian, rencana kegiatan proyek, dan lompat tinggi.
Bagian ketiga dan keempat dari tujuan instruksional yang berupa kata kerja dan objek adalah perilaku (behavior) yang diharapkan dikuasai siswa pada akhir proses belajarnya. Itulah sebabnya tujuan instruksional sering disebut tujuan yang bersifat perilaku (behavior objective). Ia disebut pula tujuan penampilan (performance objective). Karena akan ditampilkan siswa setelah proses belajar.
Bagian ketiga dan keempat dari tujuan instruksional ini merupakan bagian yang sangat penting. Berdasarkan kedua bagian tersebut akan disusun tes dan strategi instruksional, termasuk metode, media, dan isi pelajaran. Karena itu, ketidakjelasan perumusan tujuan instruksional akan mengakibatkan ketidakjelasan dasar penyusuna komponen system instruksional yang lain. Disamping itu, kegiatan merumuskan tujuan instruksional merupakan salah satu wujud tanggung jawabseorang pengajar untuk dapat mengatakan atau orang lain menilai apakah ia berhasil atau belum berhasil mencapai tujuannya.
Tujuan instruksional, disamping berfungsi sebagai suatu yang akan dicapai, berfungsi pula sebagai kriteria untuk mengukur keberhasilan suatu kegiatan instruksional. Oleh karena itu, seorang pengajar yang merumuskan tujuan instruksionalnya sebelum proses pengajaran dapat dipandang sebagai pengajar yang bersedia mempertanggungawabkan keberhasilan atau kegagalan dalam mengajar. Atas dasar criteria itu pula seorang pengajar dapat menentukan kapan ia harus memperbaikiefektifitas pengajarannya.
Pada saat saya mengajarkan peranan tujuan istruksional, seorang mahasiswa berpendapat bahwa pengajar tidak usah merumuskan tujuan, yang penting ia mengajar dengan sungguh-sungguh, lalu beri siswanya tes. Ketika aya bertanya,”apa yang akan pengajar itu teskan?”, ia menjawab,”isi pelajaran seperti desain penelitian,rencana kegiatan proyek, lompat tinggi”. Saya bertanya lagi, “ perilaku apa yang harus diteskan? Menjelaskan macam-macam desain penelitian, membaca rencana kegiatan proyek atau menceritakan cara lompat tinggi?”. Mahasiswa itu menjawab,”mungkin”.”apa bukan mengeteskan bagaimana menggunakan desain penelitian, menggambar rencana kerja, dan mendemonstrasikan lompat tinggi?”Saya bertanya lebih jauh. Ia menjawab lagi,”boleh juga”. Kesimpulannya, apa yang akan diteskan tergantung kepada keinginan pengajar pada saat melakukan tes.mungkin pengajar itu cukup meminta siswa macam-macam desain penelitian, menuliskan prosedur perencanaan kegiatan proyek atau menceritakan cara melakukan lompat tinggi, menruraikan cara mengelas besi, menjelaskan cara membuat kursi, menjelaskan cara membuat kursi, menuliskan cara mengaduk semen dan lain-lain.siswa yang berhasil dalam tes atau ujian sep;erti itu akan merupakan lulusan yang mahirdalam teori. Mungkin pula pengajar yang lain menganggap semu itu belum cukup, ia menyuruh siswa menyusun desain penelitien, menyusun kegiatan rencana proyek tertentu, atau melakukan lompat tinggi,mengelas besi, membuat kursi, mengaduk semen dan lain-lain.siswa yang berhasil dalam tes ataunujian seperti ini akan merupakan lulusa yang mampu melakukan dan mempraktikkan sesuatu. Bila anda perhatikan, apa yang akan diteskan kedua pengajar diatas sangatlah berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kata kerja tujuan instruksionalnya, walaupun objeknya sama. Karena itu, perumusan kata kerja dan objek dalam tujuan instruksional sangatlah penting.
Pengajaran tanpa perumusan tujuan instruksional secara jelas akan mempunyai implikasi tidak menentunya standar mutu mata pelajaran dan mutu lulusan program tersebut.
Tujuan instruksional umum (TIU) suatu mata pelajaran mungkin lebih dari satu, tetapi keduanya pasti bgerhubungan dalam hal seperti itu. TIU harus diurut dari perilaku yang harus atau sebaiknya dikuasai lebih dulu baru dikuasai lebih dulu baru disusul dengan yang lainnya. Urutan ini akan menjadi petunjuk dalam menentukan urutan isi pelajaran.
Banyaknya TIU tergantung pada kompleksitas dan ruang lingkup pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang akan dipelajari siswa dalam mata pelajaran tersebut. Sebagai patokan umum mungkin sekitar 3-5 buah. Jumlah TIU yang banyak mungkin akan mengakibatkan sulitnya pengelolahan kegiatan instruksional. Walaupun demikian, tidak ada patokan yang dapat disetujui oleh semua orang tentang jumlah TIU ini.
Setelah merumuskan TIU tersebut dengan baik, anda perlu mengajukan pertanyaan yang sangat penting kepada diri sendiri sebagai berikut:”bila siswa anda telah mencapai seluruh kemampuan yang telah anda rumuskan dalam TIU, apakah anda sudah merasa puas?” karena anda yakin bahwa siswa anda tidak akan mendapat kesulitan dalam melaksanakan pekerjaan atau tugasnya kelak yang berhubungan dengan pelajaran yang telah anda berikan? Bila anda menjawab ya, berarti TIU itu telah dapat anda gunakan sebagai dasar pengembangan instruksional lebih lanjut. Bila anda menjawab belum, berarti TIU itu harus direvisi terlebih dahulu.



















BAB III
Penutup

A.   Kesimpulan
pengembangan instruksional, yaitu mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan penulisan tujuan instruksional umum (TIU).
Langka ini adalah titik tolak dan sumber bagi langkah-langkah berikutnya. Karena itu, kebingungan yang terjadi dalam langka permulaan ini akan menyebabkan seluruh kegiatan pengembangan instruksional kehilangan arah. Langkah ini merupakan rangkaian dari dua kegiatan yang dijadikan satu karena keduanya sangat berkaitan. Hasil kegiatan pertama  yaitu mengidentifikasi kebutuhan instrusional.
Tujuan instruksional, disamping berfungsi sebagai suatu yang akan dicapai, berfungsi pula sebagai kriteria untuk mengukur keberhasilan suatu kegiatan instruksional.



















DAFTAR PUSKATA

Suparman,atwi.1991.desain instruksional: mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan menulis tujuan instruksional umum.Jakarta:bank dunia XVII

Tidak ada komentar:

Posting Komentar